Agus Utomo: Tantangan Menteri Perekonomian Kabinet Indonesia Maju

Senangnews.com

SETELAH pelantikan menteri pada Kabinet Indoensia Maju 2019-2024 oleh Presiden Jokowi. Tugas menteri di bidang periknomian semakin berat dengan melihat tantangan perekonomian global yang bergerak secara sangat dinamis dan cepat untuk mengantisipasi adanya potensi resesi ekonomi. Sangat dibutuhkan cara untuk melawan tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Paling penting dari sisi makro ekonomi adalah melakukan kebijakan yang mampu mencaounter perlambatan ekonomi global guna mengimbangi resesi untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri harus bekerja keras penuh integritas dan profesional untuk membuat ekonomi Indonesia kompetitif, mengingat tadi di dalam situasi dimana seluruh perekonomian sekarang mengalami kelesuan ekonomi, perekonomian Indonesia harus tetap memiliki daya dorong pertumbuhan. Sumber-sumber perekonomian domestik harus tetap bisa dan mampu memiliki daya tahan. Untuk itu supaya dilakukan pengembangan ide kebijakan di bidang investasi dan perdagangan yang mempermudah kegiatan investasi dan ekspor dari Indonesia. Semua hal yang menghalangi harus diupayakan untuk dihilangkan atau dikurangi, misalnya birokrasi investasi, penerapan perpajakan dan lain sebagainya.

Jokowi pernah menyampaikan pidato bertajuk “Visi Indonesia” yang berisi 5 visi Indonesia 2019-2024, menurut presiden Jokowi, visi ini diharapkan dapat membawa Indonesia dalam menghadapi tantangan fenomena global yang dinamis, cepat, kompleks, berisiko, dan penuh kejutan. Adapun visi tersebut antara lain: Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM); Pembangunan Infrastruktur; Penyederahanaan Regulasi demi Investasi besar; Penyederhaan Birokrasi; Transformasi Ekonomi.
Melihat apa yang disampaikan Jokowi, terkait visi Indonesia kedepan, tentu saja untuk menjalankan visi tersebut dibutuhkan pembantu presiden yang profesional dan berintegritas. Berikut menteri di bidang perekonomian yang baru saja di lantik antara lain: Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Parpol); Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Profesional); Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Profesional); Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah (Parpol); Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Parpol); Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (Profesional); Menteri ESDM Arifin Tasrif (Profesional); Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (Profesional); Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (Profesional); Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Parpol); Menteri Menteri Kelautan Perikanan Edhy Prabowo (Parpol); Menteri ATR Sofyan Djalil (Profesional); Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Manoarfa (Parpol); Menteri PANRB Tjahjo Kumolo (Parpol); Menteri BUMN Erick Thohir(Profesional); Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (Profesional); Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Whisnutama (Profesional); Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro (Profesional); Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (Profesional).
Melihat menteri di bidang perekonomian dari 19 Menteri, terdapat 7 (35%) dari parpol, dan 12 (65%) dari profesional, hal ini menunjukan sinyal kuat bahwa dalam bidang perekonomian dibutuhkan orang profesional dibanding parpol. Perlu di pahami menteri dari kalangan profesional tidak memiliki loyalitas ganda antara parpol dan presiden, Profesional akan loyal ke presiden karena tidak memikirkan kepentingan parpol dalam kebijakannya, sehingga kebijakan di antara kementerian tidak tumpang-tindih dan saling bertolak belakang. Kelebihan menteri dari profesional jelas mereka lebih kompeten dan bebas dari kepentingan politik parpol, walaupun juga ada beberapa menteri dari parpol yang profesional, menteri dari kalangan profesional diharapkan bekerja maksimal untuk menjalankan visi Indonesia 2019-2024.

Agus Utomo adalah Ketua STIE AUB Surakarta,pengamat Ekonomi ,berhasil ikut membesarkan nama besar STIE AUB  Surakarta sesuai cita cita para  Pendirinya menjadikan STIE AUB sebagai  Bunga Dunia.
Agus Utomo./Edit Paksri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *